Monday, November 30, 2009

Peluang Emas Pasar Atsiri sebagai sumber kekayaan Alam Indonesia dan potensial dipasar Dunia

Indonesia kaya akan aneka ragam tanaman untuk memproduksi minyak atsiri seperti minyak Nilam (patchouli oil), minyak Cengkeh, minyak pala, minyak kayu putih, minyak melati, Minyak sereh wangi (citronella oil) dan sebagainya.Volume perdagangan Minyak Atsiri Dunia diperkirakan bernilai sekitar US$4 milliar pada tahun 2007. Dari beberapa jumlah minyak atsiri tersebut,13 jenis telah memasuki pasar atsiri dunia, yaitu nilam, serai wangi, cengkih, jahe, pala, lada, kayu manis, cendana, melati, akar wangi, kenanga, kayu putih, dan kemukus. Sebagian besar minyak atsiri yang diproduksi petani diekspor dengan pangsa pasar untuk nilam 64%,kenanga 67%, akar wangi 26%, serai wangi 12%, pala 72%, cengkih 63%, jahe 0,4%, dan lada 0,9% dari ekspor dunia. Negara tujuan ekspor minyak atsiri Indonesia antara lain adalah Amerika Serikat (23%), Inggris (19%), Singapura (18%), India (8%), Spanyol (8%), Perancis (6%), Cina (3%), Swiss (3%), Jepang (2%), dan negara-negara lainnya (8%). Meskipun pangsa pasar beberapa komoditas atsiri secara individurelatif tinggi, total pangsa atsiri Indonesia di pasar dunia hanya sekitar 2,6%. Secara historical data, dalam perekonomian nasional pun, pada periode 2001- 2003 komoditas minyak atsiri hanya memiliki porsi yang kecil, digolongkan ke dalam komoditas “perkebunan lainnya”, dengan peran rata-rata 0,01% dari total nilai ekspor komoditas perkebunan. Pada tahun 2004, nilai ekspor komoditas atsiri mencapai US$ 47,2 juta, namun Indonesia juga mengimpor minyak atsiri senilai US$ 12,26 juta serta hasil olahannya (derivat, isolat, dan formula) US$ 117,20 juta.(sumber Balitro and other resources material data BPS)

Indonesia adalah salah satu pengekspor utama minyak atsiri dunia dengan nilai ekspor minyak atsiri dan turunannya: lebih dari USD120 juta pada tahun 2007. Di antara sekitar 3 ratus jenis minyak atsiri, terdapat puluhan jenis minyak atsiri yang sudah, sedang dan berpotensi dikembangkan di Indonesia. Pemasaran untuk minyak atsiri tidak bisa terlepas dari penggunaannya. Industri pengguna utama minyak atsiri adalah industri flavor & fragrance, industri kimia aromatik, industri farmasi, industri kosmetik (termasuk spa) dan toiletries (termasuk detergent), industri pengendalian serangga/hama serta industri makanan dan minuman.
Yang menjadi kendala berdasarkan penelitian para pakar atsiri bahwa Minyak atsiri Indonesia dihadapkan pada dua masalah utama, yaitu mutu rendah dan harga yang berfluktuasi, terutama pada komoditas ekspor utama yaitu nilam dan akar wangi. Mutu minyak atsiri yang rendah merupakan akumulasi dari mutu bahan baku tanaman atsiri yang rendah dan tidak seragam, penggunaan alat penyuling dan teknologi proses yang belum terstandar, serta kurangnya insentif harga bagi minyak atsiri yang bermutu baik.
Sebagai contoh kasus dalam hal minyak nilam Indonesia jika kita analisa berdasarkan penelitian impor minyak nilam dari luar negeri bukan untuk di gunakan untuk diolah sebagai produk jadi lainnya, tetapi semata untuk dicampur dengan produk lokal dan diekspor kembali (reekspor). Hal ini disebabkan mutu minyak nilam Indonesia sudah sangat dikenal di luar negeri sebagai minyak yang mutunya sangat baik, sehingga tujuan reekspor tersebut merupakan strategi dagang para pengekspor minyak nilam Indonesia untuk memperoleh keuntungan bahwa dengan mengimpor minyak nilam yang harganya lebih murah dan mencantumkan "Made in Indonesia" dan menjual dengan harga lebih tinggi. Namun impor minyak nilam hanya tercatat untuk tahun periode 1986/1987 setelah itu tidak terjadi lagi. Hal itu disebabkan karena berbagai sebab antara lain dapat terjadi antara lain adalah :
Untuk harga minyak nilam jatuh pada titik terendah sehingga kegiatan produksi dalam negeri pun mengalami penurunan sehingga imporpun terhenti;
Dengan perbedaan harga satuan ekspor karena antara minyak nilam Indonesia dengan minyak nilam luar negeri makin kecil karena menurunnya aspirasi pembeli luar negeri terhadap mutu minyak nilam Indonesia karena sekalipun kualitas bagus tetapi banyak di campur.
Mengenai penggunanan Minyak atsiri di Indonesia sangat beragam, dapat digunakan melalui berbagai cara yaitu melalui mulut/dikonsumsi langsung berupa makanan dan minuman seperti jamu yang mengandung minyak atsiri, penyedap/fragrant makanan, flavour es krim, permen, pasta gigi dan lain-lain. Pemakaian luar seperti untuk pemijatan, lulur, lotion, balsam, sabun mandi, shampo, obat luka/memar, pewangi badan (parfum). Melalui pernapasan (inhalasi/aromaterapi) seperti untuk wangi-wangian ruangan, pengharum tissue, pelega pernafasan rasa sejuk dan aroma lain untuk aroma terapi. Pemanfaatan aromaterapi sebagai salah satu pengobatan dan perawatan tubuh yang menjadi trend “back to nature” sangat membutuhkan bahan baku yang beragam dan bermutu dari tanaman aromatik.Keanekaragaman hayati tanaman aromatik yang menghasilkan minyak atsiri diperkirakan 160-200 jenis yang termasuk dalam famili Labiatae, Compositae, Lauraceae, Graminae, Myrtaceae, Umbiliferae dan lain-lain. Dalam dunia perdagangan telah beredar ± 80 jenis minyak atsiri diantaranya nilam, serai wangi, cengkeh, jahe, pala, fuli, jasmin dan lain-lain, sedang di Indonesia diperkirakan ada 12 jenis minyak atsiri yang diekspor ke pasar dunia. Jenis-jenis minyak atsiri Indonesia yang telah memasuki pasaran internasional diantaranya nilam, serai wangi, akar wangi, kenanga/ylang-ylang, jahe, pala/fuli dan sebagainya. Hal ini merupakan tantangan dan peluang bagi pelaku usaha Indonesia untuk lebih lagi menjaga kualitas bagi pasar ekspor maupun pasar domestik, sehingga nantinya peluang emas ini menjadi suatu wujud nyata yang berkelanjutan dalam pengembangan sentra bisnis yang harum dengan pengelolaan aneka minyak atsiri dengan profitable target.

Golden Opportunity Essential Market as a source of natural wealth of Indonesia and the potential world market.
Indonesia is rich in diversity of plants to produce essential oils like Patchouli oil (patchouli oil), clove oil, nutmeg oil, eucalyptus oil, jasmine oil, lemongrass scented oil (citronella oil) and trade sebagainya.Volume Essential Oil World estimated at around U.S. $ 4 billion in 2007. From some of these essential oils, 13 types of essential market has entered the world, the patchouli, citronella scented, cloves, ginger, nutmeg, pepper, cinnamon, sandalwood, jasmine, fragrant root, ylang, eucalyptus, and cubeb. Most of the essential oil produced is exported to the farmers market for 64% of patchouli, ylang 67%, 26% fragrant root, lemongrass scent 12%, 72% of nutmeg, cloves 63%, 0.4% ginger, and pepper 0.9% of world exports. Export destination countries essential oils such as Indonesia, the United States (23%), English (19%), Singapore (18%), India (8%), Spain (8%), France (6%), China (3% ), Switzerland (3%), Japan (2%), and other countries (8%). Although the market share of some essential commodities in high individurelatif, the total share of essential Indonesia on the world market is only about 2.6%. In historical data, even in the national economy, in the period 2001 - 2003 commodities essential oils have only a small portion, of commodities classified into "other estates', the role of average 0.01% of total export value of plantation commodities. In 2004, the export value of essential commodities reached U.S. $ 47.2 million, but Indonesia also imported essential oils worth U.S. $ 12.26 million and their processed products (derivatives, isolates, and the formula) U.S. $ 117.20 million. (Source Balitro and other material resources BPS data) Indonesia is one of the main exporters of essential oils with a value of world exports of essential oils and their derivatives: more than $ 120 million in 2007. Between about 3 hundred types of essential oils, there are dozens of types of essential oils that have been, is and has the potential to be developed in Indonesia. Marketing for essential oils can not be separated from its use. The main user industries are industries essential oil flavor & fragrance, aromatic chemicals industry, pharmaceutical industry, cosmetic industry (including spa) and toiletries (including detergents), industrial control insects / pests and food and beverage industry. Which becomes a constraint on the basis of research experts Essential oils essential that Indonesia faced with two major problems, namely low quality and prices fluctuate, especially in the main export commodity of patchouli and fragrant roots. Quality of essential oil which is accumulation of low quality raw materials essential plant low and not uniform, the use of technology tools and processes refiners that have not been standardized, and the lack of price incentives for essential oil of good quality. For example, in the case of Indonesian patchouli oil, if we analyze based on studies of patchouli oil imports from overseas is not for use to be processed as any other product, but simply to be mixed with local products and re-exported (re-export). This is because the quality of Indonesian patchouli oil is well known abroad as the oil is very good quality, so the goal is re-export trading strategies of Indonesian patchouli oil exporter to gain that with patchouli oil imports cheaper and put "Made in Indonesia 'and sold at higher prices. Patchouli oil imports but only recorded for the year 1986/1987 period after that does not happen again. This was due to many reasons, among others, may occur include: 1. For patchouli oil prices fell to the lowest point so that the domestic production activities had decreased so imporpun stopped; 2. With the difference in export unit price for the Indonesian patchouli oil with patchouli oil abroad because the smaller the decrease in the aspiration of foreign buyers of Indonesian patchouli oil quality because even good quality but a lot of interference. Penggunanan about Essential oils in Indonesia is very diverse, can be used in various ways is through the mouth / direct consumption of foods and beverages such as herbal medicine containing essential oils, flavorings / food fragrant, flavor ice cream, candy, toothpaste and others. For external use as massage, scrubs, lotions, balm, bath soap, shampoo, medicine cuts, bruises, body fragrance (perfume). Through breathing (inhalation / aromatherapy) as for room scents, fragrances, tissue, feeling the cool salve of respiratory and other aroma to aroma therapy. Utilization of aromatherapy as a treatment and care of the body becomes the trend "back to nature" in dire need of a variety of raw materials and quality of plant biodiversity aromatik.Keanekaragaman aromatic plants which produce essential oils is estimated that 160-200 species included in the family Labiatae, Compositae, Lauraceae, Graminae, Myrtaceae, Umbiliferae and others. In the commercial world has been circulated ± 80 kinds of essential oils including patchouli, citronella scented, cloves, ginger, nutmeg, mace, Jasmin and others, was in Indonesia is estimated there are 12 types of essential oils that are exported to world markets. The types of essential oils that Indonesia has entered the international market such as patchouli, citronella scented, fragrant root, ylang / Ylang-Ylang, ginger, nutmeg / mace and so on. This is a challenge and an opportunity for businessmen to Indonesia much more to maintain the quality of export markets and domestic markets, so that later this golden opportunity into a tangible form in the ongoing development of business centers in the management of various fragrant essential oils with a profitable target.

Saturday, November 28, 2009

Strategi Kemasan Produk dalam Pengembangan Desain Bisnis

Strategi dalam kemasan produk merupakan hal terpenting dalam menarik minat konsumen.Produk yang dipasarkan atau dijual hendaknya produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen sehingga dengan demikian maka konsumen merasa puas. Hanya dengan kepuasan konsumen itulah perusahaan akan mendapat keuntungan. Sebaliknya, apabila konsumen tidak merasa puas dengan produk yang dibelinya maka mereka akan meninggalkan perusahaan kita dan kita akan kehilangan pelanggan serta akhirnya kita akan menderita kerugian. Jadi kepuasan konsumen menjadi dasar utama perencanaan strategi produksi.
Dalam membuat suatu Kemasan (packaging) harus dapat memberikan informasi struktur produk, manfaat, dan informasi tambahan, sehingga mendorong konsumen untuk mencoba membeli, mendorong untuk membeli ulang dan menyediakan cara pemakaian produk. Pembentukan kemasan yang baik harus memiliki empat keistimewaan. Untuk mengevaluasi empat keistimewaan kemasan-kemasan tersebut dapat digunakan model Visibility, Information, Emotional appeal, Workability (VIEW). Sebuah kemasan mempunyai fungsi yang paling dasar secara fisik sebagai sebuah wadah dan pelindung dari produk yang ada di dalamnya. Sebagai sebuah wadah dan pelindung, maka secara fisik, sebuah kemasan harus andal terhadap benturan, tekanan, temperatur, air, debu, dan lain-lain. Tidak hanya andal bagi produk di dalamnya, sebuah kemasan juga harus direncanakan dengan mempertimbangkan penempatan dan penyimpanannya terutama dalam jumlah banyak. Umumnya sebuah kemasan akan disimpan secara bertumpuk, sehingga harus diperhitungkan barapa tumpukan maksimal yang aman dan sesuai untuk sebuah jenis produk tertentu. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya untuk direncanakan adalah kemudahan secara fisik saat pengepakan dan distribusinya. Bahkan harus dipikirkan juga ketika produk tersebut sampai pada pengguna (end-user). Faktor ergonomi cukup berperan dalam pengembangan desain kemasan.Sebagai upaya menjawab tuntutan fungsi fisik sebuah kemasan, keterlibatan konsep desain kemasan mulai berjalan seiring dengan berbagai pertimbangan teknis. Artinya, mau tak mau desainer harus mengenali material dan teknologi pengemasan yang baik, sifat, jenis, karakter, dan kekuatan bahan kemasan tersebut. (Berbagai sumber terkait).
Kemasan (Packing) yang baik tidak hanya andal secara fisik, tetapi juga harus memenuhi fungsinya untuk memberikan informasi kepada konsumen. Informasi yang diberikan adalah segala sesuatu yang dipandang perlu untuk diketahui pada tahap konsumen hendak membeli produknya. Umumnya sebuah kemasan akan menuliskan dalam kemasan tersebut siapa konsumen yang tepat untuk jenis produknya. Sebuah produk kadang hanya sesuai untuk kelompok umur tertentu dan bahkan hanya diperuntukkan bagi pria atau wanita saja. Pada kemasan konsumen juga akan mendapatkan informasi tentang bahan baku apa saja yang digunakan dalam proses produksinya, termasuk bagaimana cara penggunaan yang tepat sesuai dengan kelompok penggunanya. Saat ini konsumen sudah pasti akan memperhatikan juga tanggal kadaluwarsa sebuah produk.Dalam hal ini bagaimana dengan produk packing / kemasan dari negara kita Indonesia? Apakah sudah berdaya saing dengan produk packing mancanegara? inovasi kemasan, di mana sentuhan pembaharuan dilakukan kepada aspek kemasan, namun isi sama, dengan tujuan untuk meningkatkan daya tarik (attractiveness), sehingga secara visual akan cukup kompetitif, bila dipajang berjejer dengan para pesaing. Kemasan yang atraktif juga dapat menjadi elemen promosi yang efektif. Inovasi kemasan produk, dengan melakukan pengembangan produk baru, baik yang berbasis dari produk yang sudah ada ataupun produk yang baru. Kita bisa melihat bagaimana produsen kacang seperti Garudafood berinovasi tidak hanya dengan varian produk kacangnya, namun juga dengan melahirkan jelly, permen, bahkan nasi instant. Inovasi memang bukan hanya bertujuan untuk melahirkan sesuatu yang baru bagi pelanggan yang sudah ada, tetapi juga dapat dilakukan untuk melahirkan produk yang disasarkan untuk segmen lain atau pasar yang baru (new product for new market). Tentunya kreasi untuk produk makanan dan minuman dengan kemasan dan kualitas produk yang menarik dan berdaya saing dengan kompetisi pasar.


Wednesday, November 18, 2009

Tantangan dalam Berwirausaha / Enterprenuership dengan Pengembagan Riset

Dalam jiwa seorang wirausaha / enterpreneurships proses awal dengan suatu aksioma yaitu adanya tantangan untuk usaha yang lebih baik dari innováis ataupun kreatifitasnya. Dari tantangan timbul gagasan, kemauan, dan dorongan untuk berinisiatif yang tidak lain adalah berfikir kreatif dan bertindak inovatif, sehingga tantangan awal tadi teratasi dan terpecahkan. Semua tantangan memiliki resiko yaitu kemungkinan berhasil atau tidak berhasil. Kewirausahaan dapat mengambil berbagai bentuk dan dapat didefinisikan dalam banyak cara, fokus pada kewirausahaan seperti yang terjadi dalam ukuran kecil dan menengah (UKM) karena kedua sering ditemukan terkait erat. Sebagai catatan Wennekers dan Thurik: 'Kecil perusahaan kendaraan kewirausahaan tumbuh subur di mana '(1999:29). UKM adalah penting khusus untuk negara-negara transisi untuk sejumlah alasan. Pertama, mereka mampu memberikan manfaat ekonomi melampaui batas individu perusahaan dalam dari segi eksperimen, belajar dan kemampuan beradaptasi. Karakteristik ini secara khusus penting dalam perekonomian mengalami transformasi radikal seperti telah terjadi disebelumnya perencanaan pusat negara. Kedua, di sebagian besar negara-negara transisi, sektor UKMini sebagian besar diabaikan dan bahkan didiskriminasi pada awal periode transisi dengan penekanan pada privatisasi cepat perusahaan skala besar dan bukan pengembangan sektor UKM.

Apabila kita lihat berdasarkan teori dan sejarah perkembangan kewirausahaan dalam perkembangannya, sejak awal abad 20, kewirausahaan sudah diperkenalkan di beberapa negara, seperti Belanda dengan istilah “ondenemer”, dan Jerman dengan istilah “unternehmer”. Di negara-negara tersebut, kewirausahaan memiliki tugas yang sangat banyak antara lain adalah tugas dalam mengambil keputusan yang menyangkut kepemimpinan teknis, kepemimpinan organisatoris dan komersial, penyediaan modal, penerimaan dan penanganan tenaga kerja, pembelian, penjualan, pemasangan iklan dan sebagainya. Pada tahun 1950-an, pendidikan kewirausahaan mulai dirintis di beberapa negara seperti di Eropa, Amerika dan Canada. Sejak tahun 1970-an
banyak universitas /perguruan tinggi yang mengajarkan “entrepeneurship” atau “small business management” atau “new venture management”. Menurut Holt (1992) merupakan para ahli ekonomi Perancis, Inggris, dan Austria menulis dengan penuh antusias tentang entrepreneur atau wirausaha sebagai "change agents" dari ekonomi yang progresif. Fenomena ini perlu ditangkap sebagai salah satu peluang membangun ekonomi Indonesia yang berbasis wirausaha. Hal ini genting karena wirausaha biasanya merupakan usaha-usaha skala kecil yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang cukup besar. Dengan demikian berhasilnya usaha-usaha kecil ini dalam menjalankan usahanya, disamping akan meningkatkan kemajuan ekonomi sekaligus akan mampu memperkecil jumlah pengangguran. Untuk Itu usaha-usaha kecil yang sudah tumbuh perlu dicarikan jalan keluar agar mempunyai pengetahuan yang memadai ketika menjalankan usahanya. Sebab menurut penelitian Dun & Bradstreet (dalam Holt, 1992) kegagalan pengusaha-pengusaha kecil ini 52% disebabkan karena masalah manajemen, dan 92% diantaranya adalah karena ketidakmampuan manajer mengelola dengan baik usahanya.
Seorang wirausahawan / Entrepreneur mengetahui berbagai fungsi yang terkait dalam mengelola suatu perusahaan/organisasi, seperti fungsi manajemen, keuangan, pemasaran, produksi, operasi, sumberdaya manusia, organisasi dan kelembagaan. Wirausahawan adalah seorang yang berorientasi prestasi dan meyakini bahwa mereka menguasai kemampuan sendiri. Dalam hal ini tentunya melakukan suatu strategi baru dalam menciptakan peluang baik itu produk baru ataupun usaha yang akan dijalankan. Dan tetap komitmen untuk pencapaian pada target yang diharapkan.
(Berbagai sumber terkait, data diolah: Frans Hero K. Purba)

In the spirit of a self-employed / enterpreneurships beginning the process with an axiom that is the challenge for a better effort than innováis or creativity. Challenges arising from ideas, wishes, and encouragement for the initiative which is none other than the creative thinking and innovative action, so the initial challenge had been overcome and solved. All the challenges have an increased risk of the possibility of successful or unsuccessful. Entrepreneurship can take many forms and can be defined in many ways, a focus on entrepreneurship as happens in small and medium size enterprises (SMEs) because the two are often found closely related. For the record Wennekers and Thurik: 'Small firms thriving entrepreneurial vehicles in which' (1999:29). SMEs are especially important for countries in transition for a number of reasons. First, they able to provide economic benefits beyond the individual companies in terms of experimentation, learning and adaptability. These characteristics are especially important in the economy experienced a radical transformation has occurred disebelumnya state central planning. Second, in most transition countries, the SME sector This largely ignored and even discriminated against in the early period of transition with an emphasis on rapid privatization of large-scale company and not the development of SME sector. When we see based on theory and historical development of entrepreneurship in development, since the early 20th century, entrepreneurship has been introduced in some countries, such as the Netherlands with the term "ondenemer", and Germany with the term "unternehmer". In these countries, entrepreneurship has so many duties include duties in taking decisions related to technical leadership, organizational and commercial leadership, the provision of capital, revenue and workforce management, purchasing, sales, advertising and so on. In the 1950s, began pioneered entrepreneurship education in some countries like in Europe, America and Canada. Since the 1970s many universities / colleges that teach "entrepreneurship" or "small business management" or "new-venture management". According to Holt (1992) is a French economists, England, and Austria to write with enthusiasm about the entrepreneur or entrepreneurs as "change agents" of a progressive economy. This phenomenon needs to be perceived as one of Indonesia's economic opportunities to build entrepreneurial based. This is crucial because the entrepreneur is usually an attempt small-scale business that can provide employment in large enough quantities. Thus the success of small businesses are in business, in addition will enhance the economic progress and will be able to minimize the number of unemployed. For That small businesses that have grown to look for a way out in order to have sufficient knowledge when it conducts business. Because according to a Dun & Bradstreet (in Holt, 1992) the failure of small businesses is 52% due to management problems, and 92% are due to the inability of managers to manage their business well. An entrepreneur / Entrepreneur knows the various functions involved in managing a company / organization, such as management functions, finance, marketing, production, operations, human resources, organizational and institutional. Entrepreneur is an achievement-oriented and believe that they control their own abilities. In this course, doing a new strategy in creating a good chance that new products or businesses to be run. And remain committed to achieving the expected target. (Various sources of relevant data)

Monday, November 16, 2009

Pengaruh Brand Awareness terhadap Pemasaran Perusahaan

Dengan tuntutan dalam Era globalisasi telah adanya perubahan paradigma lama dalam segala aspek, salah satunya adalah aspek pemasaran. Semakin tingginya tingkat persaingan di bisnis lokal maupun global dan kondisi ketidakpastian memaksa perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif (competitive advantage) agar mampu memenangkan persaingan di bisnis global. Perkembangan tersebut masyarakat dihadapkan pada berbagai pilihan dalam mengkonsumsi kebutuhannya sehari-hari. Dengan perkembangan teknologi dan informasi, perkembangan industri semakin tinggi dan kompleks. Salah satu industri yang mengalami perkembangan cukup pesat adalah jenis industri makanan dan minuman. Persaingan yang semakin ketat membuat perusahaan menggunakan berbagai strategi dan berusaha mendapatkan dan mempertahankan konsumen agar tetap menjadi pelanggannya. Para pemasar menyadari dalam persaingan yang semakin ketat dan untuk mencapai laba, mempertahankan kontinuitas perusahaan, mereka harus menciptakan strategi agar kontinuitas perusahaan tetap terjaga. Salah satu strategi yang berkembang adalah advertisng, untuk itulah Perusahaan menggunakan program advertising untuk meningkatkan brand awareness dan keputusan pembelian konsumennya.
Dalam beberpa perusahaan terdapat beberapa manfaat dari merek yang kuat yaitu, dapat membangun loyalitas dan loyalitas akan mendorong bisnis berulang kembali, merek yang kuat memungkinkan tercapainya harga premium dan akhirnya memberikan laba yang tinggi, sebuah merek yang sangat mapan dapat memberikan kredibilitas untuk sebuah produk baru, merek yang kuat akan membantu perusahaan dalam melakukan perluasan pasar, dalam menghadapi persaingan yang ketat merek yang kuat merupakan suatu pembeda yang jelas, bernilai, dan berkesinambungan, menjadi ujung tombak bagi daya saing perusahaan dan sangat membantu dalam strategi pemasaran. Secara internal merek yang kuat memberikan kejernihan fokus internal dan eksekusi merek. Merek yang kuat umumnya memberikan pemahaman kepada para karyawan tentang posisi merek tersebut dan apa yang dibutuhkan untuk menopang reputasi atau janji yang diberikan merek itu. Merek yang kuat juga akan memberikan kejelasan arah strategi karena setiap anggota organisasi mengetahui posisinya dan bagaimana cara menghidupkannya di mata pelanggan. Manfaat lain yang diperoleh dari merek yang kuat yaitu memungkinkan perusahaan untuk menarik calon karyawan yang terbaik dan memberikan kepuasan bagi para karyawannya. Konsumen hanya mengetahui manfaat suatu brand dan berniat untuk membeli. Sedangkan pada afffective Loyal konsumen telah mencoba suatu brand dan merasakan manfaatnya. Pada tahap ini, konsumen melakukan penilaian terhadap ekspektasinya, apabila manfaat produk telah memenuhi harapannya (puas), maka kemungkinan besar brand tersebut akan dikonsumsi lagi pada waktu yang akan datang. Umumnya, produk-produk baru sampai tingkatan ini. Pada intinya bahwa dalam brand awaress menjadi loyalitas konsumen dalam pemanfaat logo yang menarik dan harga yang sesuai dengan kualitas produknya. (Berbagai sumber terkait, data diolah: Frans Hero K. Purba)

Sunday, November 15, 2009

Manajemen Resiko dalam Pengendalian Usaha

Pada prinsipnya setiap usaha memang memiliki resiko, namun apakah resiko itu dapat dideteksi lebih dini ataukah dapat muncul secara tiba-tiba, dan jika resiko itu memang harus terjadi apakah besarnya resiko tersebut dapat mempengaruhi usaha yang sedang dijalankan.Adapun beberapa tahapan menganalisa resiko dalam pengendalian usaha yaitu: Tahapan Pertama yang harus dilakukan adalah menetapkan konteks, konteks disini adalah berupa tujuan perusahaan atau biasa yang disebut dengan visi dan misi perusahaan. Setelah itu tetapkan kriteria untuk mengidentifikasi resiko.Tahapan Kedua adalah mengidentifikasi resiko pada usaha anda.Tahapan Ketiga adalah menganalisa resiko yang telah kita identifikasi sebelumnya untuk menentukan tingkat pengendalian kita terhadap resiko-resiko tersebut dengan mempertimbangkan tingkat kemungkinan dan konsekuensinya terhadap tingkat resiko. Tahapan Keempat adalah mengevaluasi resiko dengan membandingkan terhadap kriteria yang telah kita tentukan sebelumnya, dan setelah itu susun prioritas resiko yang akan kita selesaikan jika resiko itu terjadi. Tahapan kelima adalah jika pada langkah keempat hasil evaluasi resikonya tidak dapat diterima maka kita dapat melakukan hal-hal sebagai berikut : 1. Identifikasi evaluasi kembali opsi-opsi penanganan yang akan kita pilih. 2. Siapkan rencana penanganan. 3. Implementasikan rencana. Tahapan Keenam adalah jika langkah keempat dan kelima sudah dapat diterima, maka kita tinggal memonitor dan menelaahnya saja. (Berbagai sumber terkait, data diolah Frans Hero K. Purba).
Dengan besarnya risiko yang dapat muncul dalam sistem persediaan, perusahaan-perusahaan berusaha merancang pengendalian internal yang efektif di dalam sistem persediaannya.Pengendalian internal yang tercipta dalam perusahaan sangat penting bagi perusahaan yang laporan keuangannya harus diaudit oleh akuntan publik, pengendalian internal ini selain dapat mempengaruhi keandalan informasi juga akan mempengaruhi luasnya lingkup pengujian yang akan dilakukan oleh akuntan publik khususnya pengujian substantif yang sangat tergantung pada pengendalian internal yang didesain dan diterapkan oleh klien. Selain itu sistem pengendalian internal yang efektif akan sangat mempengaruhi risiko pengendalian yang ditetapkan oleh auditor dalam mengaudit laporan keuangan klien dan banyaknya bukti yang harus dikumpulkan serta prosedur pengujian substantif atas saldo persediaan klien. Pengendalian risiko mempunyai cakupan yang lebih luas dari manajemen risiko. Manajemen risiko sering didefinisikan sebagai hedging atau menetralisasikan risiko keuangan yang dihasilkan dari satu atau suatu seri transaksi. Dalam tulisan ini, pengendalian risiko merupakan keseluruhan proses kebijakan , prosedur dan sistem yang dibutuhkan oleh suatu institusi untuk mengelola secara prudent semua risiko yang dihasilkan dari transaksi-transaksi keuangan, dan untuk meyakini bahwa semua itu berada dalam batas ‘risk appetite’ yang sudah ditetapkan. Untuk menghindari pertentangan kepentingan, pengendalian risiko harus dipisahkan dan harus cukup independen dari unit bisnis yang melaksanakan transaksi keuangan perusahaan (unit terakhir ini lazimnya bertanggung jawab dalam pelaksanan hedging risiko yang dihasilkan dari perdagangan yang mereka lakukan). Dalam hal ini dengan memperhatikan resiko pengendalian internal perusahaan dengan berbagai aspek sesuai dengan prosedur yang ditetapkan perusahaan.
In principle, every business does have risks, but whether this risk can be detected earlier or can appear suddenly, and if this risk had to happen if the amount of risk that may affect the business being analyzed dijalankan.Adapun several stages in the control of business risk namely: First Phase to be done is to set the context, the context here is a common goal or a company called the company's vision and mission. After that set of criteria to identify resiko.Tahapan Second is to identify risks to the business anda. Third Stage is to analyze the risks we have identified previously to determine the level of our control against these risks by considering the possibility and consequences of the level of risk. Fourth stage is to evaluate the risk by comparing the criteria we set before, and then stacking priority risks will we accomplish if the risk occurs. The fifth stage is the fourth step if the risk evaluation is not acceptable then we can do these things as follows: 1. Identification of re-evaluation of treatment options which will we choose. 2. Prepare a treatment plan. 3. Implement the plan. Sixth stage is if the fourth and fifth steps are acceptable, then we live monitor and examine it. With the amount of risk that can arise in the supply system, companies are trying to design an effective internal control within the system created by internal persediaannya.Pengendalian the company is very important to the company financial report must be audited by public accountants, internal controls are in addition may affect the reliability information will also affect the extent of the scope of testing to be conducted by public accountants in particular substantive test is highly dependent on the internal control designed and implemented by the client. Besides the internal control system will greatly affect the effective control of risk determined by the auditors in the audit client's financial statements and the amount of evidence that must be collected and substantive testing procedures for client inventory balances. Risk control has a broader scope of risk management. Risk management is often defined as hedging or neutralize financial risks resulting from one or a series of transactions. In this paper, an overall risk control policy processes, procedures and systems needed by an institution to manage in a prudent all risks resulting from financial transactions, and to believe that it is in the limit 'risk appetite' is already defined. To avoid conflicts of interest, risk control should be separated and must be sufficiently independent from the business units that implement the company's financial transactions (the last unit is typically responsible for the conduct of hedging risks resulting from trade that they do). In this case with respect to internal control risk in various aspects in accordance with established company procedures.

Friday, November 13, 2009

Orientasi Pemasaran Dan Peningkatan Mutu Produk Perusahaan

Untuk menjadi perusahaan yang berorientasi pasar dengan kualitas produk serta memasarkan produk yang berorientasi pasar memang perlu, tetapi tidak bisa menyelesaikan semua permasalahan. Market orientation sebagai implementasi dari marketing concept telah menarik perhatian para peneliti pemasaran. Pada awalnya ketertarikan tersebut diwujudkan dalam bentuk pengembangan instrument yang dapat mengukur sejauh mana organisasi telah menerapkan marketing concept dalam bentuk activities and behaviors. Hal itu dimulai ketika Shapiro mencoba mendefinisikan pengertian dari market driven organization. Shapiro (1988) mendefinisikan organisasi yang didorong oleh pasar (market driven organization) sebagai organisasi yang memiliki tiga karakteristik kritikal, yaitu (1) informasi tentang semua pengaruh pembelian penting yang menembus setiap fungsi dalam perusahaan; (2) Keputusan strategis dan taktis dibuat secara lintas fungsi dan lintas divisi; (3) Divisi-divisi dan fungsi-fungsi membuat keputusan yang dikoordinasikan dengan baik dan mengeksekusikannya dengan penuh komitmen.
Suatu produk apablia dikatakan sukses jika disukai pasar. Pasar menyukai suatu produk berdasarkan kualitas dan harga. Menciptakan produk yang disukai tidak dapat dilakukan begitu saja, diperlukan konsep pengembangan yang baik. Dalam lingkungan pemasaran terdiri dari lingkungan mikro dan lingkungan makro. Sangat penting untuk suatu perusahaan, dan pemasar untuk memiliki pemahaman yang kuat tentang lingkungan pemasaran secara keseluruhan gambaran besar. Tidak tahu sehingga akan memimpin sebuah perusahaan untuk beroperasi dalam kebutaan, yang menyebabkan kegagalan mutlak cepat atau lambat. Kekuatan lingkungan mikro adalah aktor yang lebih dekat kepada perusahaan, sementara pasukan makro kekuatan lebih besar yang sulit untuk dikendalikan. Pasukan mikro yaitu: Perusahaan itu sendiri; pemasok; pesaing; perantara pemasaran, pelanggan, dan masyarakat sebagai kekuatan yang mengatur. Ada banyak divisi dalam suatu perusahaan itu sendiri. Divisi ini harus berkolaborasi dan bekerja sama dengan baik agar perusahaan untuk mencapai keberhasilan. Hal ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Sering kali, divisi pemasaran akan memiliki konflik besar dengan divisi-divisi lain karena komunikasi yang buruk, persetujuan, pemahaman dan uang (anggaran dan masalah biaya). Kemungkinan masalah pembuatan bir di perusahaan itu sendiri sama-sama tinggi sebagai masalah eksternal meningkat.
Dengan membangun hubungan serta jaringan / networking yang memberikan nilai adalah fokus daripada transaksi sendiri. Dalam artian bahwa konsep pemasaran adalah tentang menemukan produk yang benar untuk pelanggan dan tidak menemukan pelanggan yang tepat untuk produk. Ini berfokus pada "pengertian dan merespon" daripada "membuat dan menjual" filsafat. Konsep pemasaran adalah landasan pemasaran modern dan harus diadopsi oleh lebih banyak perusahaan untuk lebih bermanfaat bagi perusahaan dan pelanggan. Terakhir, konsep pemasaran sosial menyatakan bahwa perusahaan harus merancang strategi pemasaran yang seharusnya memberikan nilai kepada para pelanggan dengan cara yang menjaga atau meningkatkan kesejahteraan jangka panjang pelanggan dan masyarakat. Memberikan pelayanan yang baik bagi customer merupakan statu citra dari perusahaan, sehingga orientasi pasar berbasi mutu produk yang berkualitas akan memberikan kepercayaan konsumen. (Berbagai sumber terkait, data diolah: Frans Hero K. Purba)

Thursday, November 12, 2009

Pemanfaatan Yang Terbuang Menjadi Peluang dari Pengolahan Limbah dan sampah sebagai Peluang Bisnis

Jika kita berfikir peluang apa yang kira-kira dapat mendatangkan peluang bisnis dari sampah. Hal ini tentunya sudah terpikir dari dahulu, bahwa samapah dapat diproses menjadi hal yang berguna dan jika sampah telagh banyak tertimbun akan menyebabkan banjir, karena selokan dan lubang-lubang parit tersumbat. Banyak solusi yang telah diprogramkan oleh pemerintah dan beberapa pelaku usaha untuk penanggulangan sampah ini, tetapi kesadaran dari masyrakat apakah peduli atau tidak ini menjadi pertanyaan besar. Jikalau Program Makes Business From Dispose/ Sampah, akan lebih menarik lagi program-program Corporate Social Responsibility yang dicanangkan beberapa perusahaan lebih digiatkan lagi untuk concern ke sampah ini. Sampah menjadi masalah yang krusial bagi daerah perkotaan, pedesaan dan sebagainya yang dalam penanganannya. Namun siapa sangka, sampah yang begitu banyak bisa menjadi bisnis yang menguntungkan dan memiliki prospek bisnis. Sampah plastik selama ini benar-benar hanya dilihat sebagai sampah semata. Hampir-hampir tidak ada yang bisa melihat sisi positif pada sampah plastik, bahkan pemulung pun enggan mengumpulkannya. Padahal sejatinya, sampah plastik ini bisa didaur ulang menjadi bahan baku pembuatan plastik. Permintaan terhadap bahan baku ini pun sangat besar sehingga pabrik pembuatan plastik sering kehabisan stok bahan baku.Belum lagi kalau dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerjanya. Dalam bisnis ini banyak pihak yang bisa terlibat di dalamnya. Misalnya pemulung, penampung, bandar sampah plastik bekas, maupun pemasok ke perusahaan daur ulang sampah plastik. Di dalam perusahaan/pabrik daur ulang sampah plastik sendiri banyak menampung tenaga kerja dari mulai: tenaga sortir plastik, tenaga giling, tukang pres, tukang jemur, tenaga pengepakan/packing sampai staf administrasi dan keuangan, mereka semua mendapatkan upah yang cukup lumayan dan memadai untuk menunjang kebutuhan hidup sehari-hari. Contohnya di Beberapa daerah penggunaan sampah plastik mendatangkan peluang kerja dan menghasilkan banyak uang selain itu program inipun didukung oleh pemerintah
Daur Ulang Limbah Kertas, bahan-bahan yang bisa di gunakan ada dua jenis yaitu dari limbah kertas dan tanaman hasil pertanian atau tanaman-tanaman non produktif seperti alang-alang dan batang pohon pisang. Limbah-limbah ini ternyata dapat kita manfaatkan atau kita olah menjadi barang yang memiliki nilai komoditi tinggi seperti tempat tissu, kotak perhiasan, tas wanita, dan aneka kerajinan tangan lainnya. Untuk membuat kerajinan tangan ini, pertama-tama yang harus dilakukan adalah kertas limbah tadi di potong kecil-kecil kemudian direndam di dalam air kurang lebih satu hari, kemudian setelah lunak diblender sampai menjadi bubur kertas. Setelah semua menjadi bubur, proses selanjutnya adalah dicetak dengan menggunakan alat cetak dari kawat kasa yang telah terpasang pada sebuah spanram dengan ukuran kurang lebih 21,5 cm x 33 cm. Batang pisang juga dapat di olah menjadi kertas, pertama-tama batang pisang dipotong kecil-kecil lalu di jemur di bawah terik matahari hingga kering. Setelah kering proses berikutnya adalah merebusnya sampai lunak, lalu di buat bubur (pulp) dengan cara di blender. Baru kemudian dicetak menjadi lembaran-lembaran kertas. Proses terakhir adalah membentuk suatu kerajinan tangan dari kertas daur ulang tersebut dan untuk memperindah tampilan dikombinasikan dengan aneka pernak-pernik atau bahan rempah-rempah seperti kayu manis, lada, ketumbar dll. Rempah-rempah dan pernak-pernik tersebut disusun sedemikian rupa sehingga terbentuk sebuah hiasan yang menarik dan unik, dan terbentuk satu kesatuan yang artistik.
Umumnya untuk sampah plastik yang sangat berguna bila didaur ulang, dan terbagi menjadi 2 kelompok plastik daur ulang, yaitu: kelompok film grade dan non-film grade seperti sampah plastik lembaran kemasan makanan (kantong gula, tepung, dan lain-lain), kantong belanja (kresek), kantong sampah, pembungkus tekstil, tas, garmen, pembungkus rokok, pembungkus baju/kaos, karung plastik, dan lain-lain. Untuk non-film grade ada botol air mineral, juice, saos, minyak goreng, kosmetik, shampoo, oli, tutup botol, krat botol, ember, mainan, tong sampah, container, pipa PVC, kabel listrik, selang air, plastik gelombang, dan lain-lain.
Semua pabrik plastik daur ulang (recycling) membutuhkan plastik-plastik bekas (sampah plastik) baik dari kelompok film grade (plastik daun) maupun dari non-film grade. Plastik-plastik tersebut sebagai bahan utama/campuran untuk diproses daur ulang menjadi biji/pellet plastik, sehingga dikenal dengan nama biji/pellet plastik daur ulang. Hal ini hanya untuk membedakan dengan biji plastik original (asli). Karena biji plastik asli sebagian besar masih impor, sehingga harganya cukup mahal (tergantung dolar dan harga minyak dunia). Maka biji/pellet plastik daur ulang dapat menjadi suatu alternatif, dengan harga yang sangat kompetitif. Sukses mengolah sampah menjadi peluang bisa menjadikan inspirasi bagi kita untuk mengelola bisnis sampah.
(Berbagai sumber terkait, data diolah: Frans Hero K. Purba).

Wednesday, November 11, 2009

Terobosan dan Pemamfaatan Umbi-umbian sebagai Peluang Usaha Agribisnis skala Pengembangan Pasar

Pemanfaatan umbi-umbian sebagai peluang usaha bisnis sangatlah tepat untuk dikembangkan. Indonesia yang merupakan negara yang kaya berbagai jenis umbi dapat menjadi suatu peluang besar didalam pengembangannya. Umbi-umbian di Indonesia kurang mendapat perhatian, karena komoditi itu dianggap sebagai kelas rendahan yang dihubungkan dengan kemiskinan, padahal hasil penelitian menunjukan kandungan gizi yang sangat tinggi. Sedikitnya di Indonesia terdapat 75 jenis tanaman umbi-umbian yang umumnya mengandung protein tinggi, yang secara tidak langsung menyembuhkan berbagai penyakit, antara lain kanker dan penyakit diabetes. Kimpul, Ganyong, Garut, Uwi dan Gembili, Semuanya adalah merupakan umbi-umbian. Mereka masih saudara dengan umbi yang lebih populer seperti singkong dan ubi. Di kota-kota besar, kimpul dan kawan-kawannya jarang ditemukan. Mungkin, hanya mereka yang pernah hidup di kampung, yang sempat merasakannya.Pada dasarnya umbi-umbian merupakan sumber karbohidrat. Di luar itu, setiap umbi memiliki kandungan lain yang berguna. Kimpul, misalnya, mengandung sifat basa yang berfungsi melindungi gigi. Sementara ganyong mengandung kalsium, fosfor, dan zat besi. Ubi jalar kaya akan beta karoten, ubi jalar ungu mengandung antosianin yang bekerja sebagai antioksidan pencegah kanker, penuaan dini, dan penyakit degeneratif. Zaman nenek moyang terdahulu, umbi-umbian ini dinikmati dengan cara direbus, digoreng, dan dikukus.Namun sekarang banyak pemanfaataanya untuk bisnis dengan berbagai olahan.

Sebagai contoh orang memanfaatkan ubi jalar sebagai makanan kudapan cara direbus atau digoreng saja, padahal masih banyak cara pengolahan ubi jalar yang dapat memberikan potensi nilai ekonomi yang tinggi yaitu dengan diolah menjadi berbagai bentuk dan macam produk olahan salah satunya sebagai bahan alternatif pembuatan kue moci. Kue moci merupakan panganan asli warga keturunan cina dan biasanya disajikan pada resepsi pernikahan. Saat mulai dipasarkan ke masyarakat kue moci laris manis dan digemari oleh masyarakat Indonesia termasuk kaum pribumi. Berdasarkan pada orientasi pola hidup masyarakat sekarang ini yang semakin konsumtif terutama terhadap makanan dan minuman, maka peluang usaha pemanfaatan ubi jalar sebagai produk makanan dalam bentuk kue moci akan memberikan prospek yang cerah bagi pelaku usaha.
Berbagai jenis umbi-umbian merupakan tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia. Umbian-umbian mempunyai kandungan gizi yang cukup memenuhi jika dimanfaatkan sebagai makanan pokok. Jenis umbi-umbian yang sering ditemukan di pasaran antara lain jenis talas-talasan, ketela rambat, kentang, ketela pohon.
Jenis Talas-talasan (Aracaceae): Tanaman talas-talasan yang banyak dijual di pasaran saat ini adalah bentol (Xantoshoma, Colocasia). Jenis tanaman ini dijual di pasaran dengan harga yang relatif rendah. Tanaman ini juga mempunyai kandungan karbohidrat yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai pangan pengganti beras. Sekarang ini, jenis talas-talasan dioleh menjadi keripik, masakan, bahkan ada yang dijadikan sebagai tepung.
Ketela rambat/ ubi jalar (Ipomoea batatas): Ketela rambat yang banyak dijual dipasaran terdiri dari dua jenis yaitu ketela ungu dan ketela kuning. Ketela rambat sering dijadikan sebagai camilan atau makanan pengganjal perut. Ketela rambat sering dioleh dengan direbus, digoreng, atau dijadikan keripik. Kentang (Solanum tuberculosum):Kentang banyak dimanfaatkan sebagai sayuran dalam masakan sehari-hari. Pengolahan kentang yang banyak adalah diolah sebagai keripik. Kentang di pasaran saat ini banyak dijual tapi pengolahan kentang untuk menjadi lebih berkualitas masih belum berkembang. Ketela pohon (Manihot utilissima):Ketela pohon merupakan jenis umbi akar yang sering dimanfaatkan sebagai makanan tambahan. Ketela pohon sering diolah dengan direbus, digoreng, dijadikan keripik, dan diolah menjadi tepung. Sekarang ini banyak makanan atau kue yang menjadikan ketela pohon sebagai bahan dasarnya.

Terobosan dan peluang dilakukan, mengingat ketela rambat dan jenis umbi-umbian lainnya, dalam beberapa tahun belakangan ini menjadi trend dan peluang bisnis yang menjanjikan. Dalam bidang pengolahan berbagai jenis umbi-umbian menjadi makanan bergengsi diharapkan mampu mendorong petani untuk lebih mengembangkan berbagai jenis tanaman umbi-umbian dan meningkatkan nilai tambah bagi penghasilan. (Berbagai sumber terkait, data diolah Frans Hero K. Purba)

Tuesday, November 10, 2009

Pemberdayaan Wirausaha dalam Pengembangan Kualitas Enterpreneur Dalam Penciptaan Perekonomian

Dari sisi prespektif kebangsaan, globalisasi menimbulkan kesadaran bahwa kita merupakan warga dari suatu masyarakat global dan mengambil manfaat darinya, namun disisi lain, makin tumbuh pula dorongan untuk tumbuh lebih melestarikan dan memperkuat jati diri bangsa dengan prinsip dari wirausaha. Menurut pepatah entrepreneurship are born not made, sehingga kewirausahaan dipandang bukan hal yang penting untuk dipelajari dan diajarkan. Namun dalam perkembangannya, nyata bahwa kewirausahaan ternyata bukan hanya bakat bawaan sejak lahir, atau bersifat praktek lapangan saja. Kewirausahaan merupakan suatu disiplin ilmu yang perlu dipelajari. Kemampuan seseorang dalam berwirausaha, dapat dimatangkan melalui proses pendidikan. Seseorang yang menjadi wirausahawan adalah mereka yang mengenal potensi dirinya dan belajar mengembangkan potensinya untuk menangkap peluang serta mengorganisir usahanya dalam mewujudkan cita-citanya.

Masyarakat tidak berdaya mengangkat ekonominya sendiri, membuka lapangan kerja baru merupakan realita yang sulit diciptakan. Masyarakat terdidik juga sangat tergantung pada kondisi ada lapangan kerja atau tidak. Masyarakat Indonesia secara umum memiliki mentalitas entrepreneurship rendah. Rendahnya mentalitas entrepreneurship ini tentu tidaklah tanpa alasan. Kolonial menanamkan kepada masyarakat Indonesia dengan tidak memberi kesempatan dalam dunia usaha. menjadi entrepreneur, disebabkan oleh beberapa faktor yaitu : a. Melakukan bisnis lebih sulit dibandingkan menjadi abdi dalem (karyawan) b. Resiko menjadi abdi dalem lebih rendah dibandingkan menjalani usaha (Tidak bisa mengelola bisnis). c. Pegawai negeri ada pensiun sebagai bekal jika sudah tua.
Perusahaan ditengah badai krisis saat ini pun tidak melupakan unsur-unsur kewirausahaan sebagai bentuk pemacu peningkatan layanan dan produktifitas.Beberapa hal yang mendorong dalam kewirausahaan antara lain:
Kewirausahaan Corporate : Jika suatu Perusahaan baik skala besar maupun yang kecil tentu ingin mengembangakan bentuk layanan dan jasanya, untuk mendorong hal tersebut maka perlu inovasi dalam mewujudkan hal tersebut. Berawal dari situlah perusahaan besar atau kecil menerapkan unsur-unsur kewirausahaan dibeberapa pelaku divisinya untuk lebih mendekatkan kepada suara, kebutuhan, permintaan konsumen. Dalam hal ini
kewirausahaan ini memiliki arti kemampuan perusahaan untuk mengembangkan barang atau jasa baru dan mengelola proses inovasi
Penemuan / Innovation: Seperti contoh beberapa waktu lalu ditemukan beberapa perangkat dalam pengolahan hasil pertanian, mulai dari penggiling gabah pake mesin, kompor berbasis kompos. Penemuan ini merupakan unsur kewirausahaan dalam arti menciptakan produk yang bisa dikomersialkan dari hasil penemuan.
Inovasi Kewirausahaan: Di Propinsi DI Yogyakarta dan di Propinsi Bali pernah terdapat industri kaos yang unik yaitu Dagadu dan Jogger. Jogger lebih dahulu lahir, dengan konsep-konsep uniknya yang lucu, konyol dan gokil. Namun inovasi dalam hal ini bukan pada unsur proses produksinya tetapi lebih kepada value dari kaos, yang sekedar pelindung tubuh dan fashion menjadi hiburan dan humor. Jogger dengan permainan kata-kata umum, kalau Dagadu menumbuhkan kata-kata yang empirikal , tradisional dan Jawani (unsur budaya jawa).
Kewirausahaan dari inovasi kaos menjadi bernilai seperti Dagadu dan Jogger adalah perwujudan dari nilai kewirausahaan dalam arti menciptakan atau mengembangkan produk atau proses ide baru.
Imitasi / Meniru
Negara Korea terkenal dengan meniru produk jepang pada awalnya baik oleh industri kecil atau industri tangan di korea, namun sekarang inovasi telah tumbuh dari konsep meniru untuk menghasilkan yang lebih baik dan berbeda. Begitu juga industri logam di Kota Tegal dan Klaten yang meniru produk logam plastic dll tumbuh dengan pesat.
(Berbagai data sumber terkait, data diolah Frans Hero K. Purba).
Strategi Bisnis dan Kewirausahaan merupakan tantangan dan peluang untuk mencoba berkreasi menciptakan suatu produk / jasa untuk peluang pasar baru dalam peningkatan ide dan pengembangan dari seseorang. Seorang wirausaha harus memiliki karakter dasar yaitu adanya visi yang jauh kedepan yang menjadi dasar pendorong perubahan dan karena kemampuan mengkombinasikan berbagai sumberdaya untuk mendapatkan suatu yang baru.

Monday, November 9, 2009

Kewirausahaan / Enterpreneurship sebagai strategi Pengembangan diri dalam Bisnis

Dalam perkembangan zaman dan diera globalisasi ini semakin menuntut untuk menjadi yang terbaik sebagai seorang wirausahawan / enterpreneurships. Untuk meningkatkan kemampuan kewirausahaan dilakukan melalui langkah-langkah: (a) mengembangkan kewirausahaan bagi para pengusaha dan calon pengusaha untuk meningkatkan kinerja perusahaan terutama melalui peningkatan etos kerja, kreativitas dan inovasi, produktivitas, kemampuan membuat keputusan dan mengambil risiko, serta kerjasama yang saling menguntungkan dan dengan menerapkan etika bisnis; (b) Meningkatkan kinerja perusahaan yang bermanfaat bagi masyarakat dan perekonomian nasional terutama melalui; penciptaan lapangan kerja baru, penciptaan barang dan jasa yang lebih bermutu dan atau lebih beragam, peningkatan daya saing perusahaan, baik di pasar dalam negeri ataupun di pasar Internasional; (c) Mengembangkan kewirausahaan masyarakat luas yang diharapkan akan mendorong peningkatan kegiatan dan kinerja usaha dan ekonomi masyarakat melalui peningkatan etos kerja, disiplin efisiensi, dan produktivitas nasional; (d) Menyebarluaskan asas pokok kewirausahaan sebagai pedoman praktis bagi semua pihak yang berminat dan terkait dengan pengembangan kewirausahaan serta bagi yang ingin mengetahui, menghayati lebih mendalam dianjurkan untuk mengikuti kegiatan pembudayaan kewirausahaan. (Berbagai sumber terkait, data diolah oleh Frans Hero K. Purba)

“Behind The Power Image for Entrepreneurships, jadi sebagai wirausahawan muncul ide-de cemerlang untuk menciptakan inovasi dan peluang usaha yang dirancang oleh setiap individu sendiri. Seorang Enterprenurships /wirausahawan tidak lepas dari berbagai/tindakan yang berdasarkan pada pemikiran-pemikiran yang akurat. Dengan satu tindakan yang tepat berarti dapat dikatakan telah menjawab satu tantangan atau lebih yang berisi pemikiran yang cemerlang. Wirausahawan atau interpreneur adalah pengusaha yang mampu melihat peluang mencari dana dan sumber daya lain yang diperlukan untuk menggarap peluang tersebut. Seorang wirausaha dituntut untuk bertindak berdasarkan atas analisa-analisa dari seluk beluk kegiatan usaha yang akan dilakukan. Intuisi adalah daya atau kemampuan untuk mengetahui sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari. Intuisi dan daya kreasi berperan lebih dominan, sementara daya analisis tetap ada namun sifatnya laten. Peter Ducker memformulasikan ciri-ciri khusus yang harus dimiliki seorang wirausaha adalah; (1) bekerja keras, (2) optimistis, (3) berupaya menghasilkan satu cara yang terbaik, (4) dorongan untuk dapat berprestasi, (5) mampu mengorganisasi, (6) bertanggungjawa, (7) orientasi pada uang, (8) orientasi pada imbalan, dan (9) memperhatikan pada kualitas.Pada tahap eksperimentasi agar pertumbuhan usaha lebih maju, ada beberapa hal yang perlu dianalisis, yaitu: (1) perencanaan misi dan visi, (2) proyeksi kebutuhan investasi awal, dan (3) penentuan tingkat laba yang layak.Seorang wirausaha merupakan penggerakkan dan pemimpin pelaksanaan kegiatan organisasi bisnis. Jika keputusan telah diambil untuk melaksanakan tugasnya, maka keputusan-keputusan itu harus menjadi tindakan-tindakan yang praktis, yaitu antara lain menetapkan tugas, menunjukkan tugas dan memberikan tugas. Tugas-tugas dapat diperinci secara jelas dan orang-orang diserahi tanggung jawab terhadapnya, sehingga mutu dari penyelenggaraan kerja akan lebih mudah dikendalikan. Inilah yang menjadi acuan bagi seorang wirausaha sejati dalam pengorbanan waktu, peluang dan inovasi.

Inovasi Strategi Bisnis dalam Pengembangan Usaha

Dalam suatu bisnis, inovasi tentunya berbeda dengan istilah kreasi atau invensi. Kreasi merupakan perwakilan dari proses thinking, sedangkan invensi merupakan perwakilan dari discovery yang tidak memperhatikan apakah layak atau tidak menjadi bisnis. Sedangkan inovasi merupakan kombinasi dari proses kreasi, dan bisa saja invensi namun yang bernilai bisnis atau layak untuk dikomersilkan. Sehingga proses kreatif dan invensi pada kegiatan bisnis tidaklah cukup tanpa disertai dengan business sense capability sehingga kedua luaran dari proses tersebut dapat diubah menjadi peluang bisnis. (Berbagai sumber terkait, data diolah Frans Hero K. Purba)
Sebagai contoh Keunggulan para pelaku industri Inovasi China telah "bersaing dalam kompetisi" berbagai industri yang selama ini dikuasai berbagai negara industri maju. Pengamatan Williamson dan Zeng pada tahun 2005 menyatakan produk-produk China telah membanjiri volume pasar dunia sebanyak 40% produk televisi, 50% produk AC,30% produk refigrator, 51% produk microwave ovens, lebih dari 50% kamera digital, 37% produk telepon selular, 70% produk kontainer, 60% produk mainan, 70% produk lampu, 50% produk Crane, 70% produk mesin jahit dan 35% produk komputer pribadi. Di negara-negara Timur Tengah, berbagai negara ASEAN, dan Eropa Timur, produk-produk China telah merajai pasaran mereka. Pasar-pasar di negara-negara USA, Eropa Barat, dan Jepang sudah mulai "diganggu" oleh produk-produk China yang dari dari segi fitur dan harga yang terjangkau. Bukan tidak mungkin kisah produk-produk China yang masuk pada produk dan pasar premium akan mulai menjadi fenomena nyata pada beberapa tahun kedepan. Belajar dari China bagaimana menciptakan strategi yang berinovasi dan harga yang terjangkau.

Strategi Inovasi paling sering diterjemahkan sebagai penemuan baru. Aspek “kebaruan” dalam inovasi sangat ditekankan untuk inovasi di sektor swasta atau di industri. Namun untuk inovasi di sektor publik, sesungguhnya inovasi tidak menekankan aspek “kebaruan”, melainkan menekankan aspek “perbaikan” yang akan dihasilkannya, misalnya pelayanan publik menjadi lebih berkualitas, murah dan terjangkau.

Friday, November 6, 2009

Supply Chain Management dalam Strategi Pengembangan Perusahaan

Supply Chain Management (SCM)merupakan jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir. Perusahaan-perusahaan tersebut termasuk supplier, pabrik, distributor, toko atau ritel, sertu perusahaan pendukung seperti jasa logistik. Ada 3 macam hal yang harus dikelola dalam supply chain yaitu pertama, aliran barang dari hulu ke hilir contohnya bahan baku yang dikirim dari supplier ke pabrik, setelah produksi selesai dikirim ke distributor, pengecer, kemudian ke pemakai akhir. Tujuan dari supply chain adalah untuk memastikan sebuah produk berada pada tempat dan waktu yang tepat untuk memenuhi permintaan konsumen tanpa menciptakan stok yang berlebihan atau kekurangan.Sebuah operasi yang effisien dari supply chain tergantung pada lengkap dan akuratnya aliran data yang berhubungan dengan produk yang diminta dari retailer kepada buyer , sistem transportasi dan kembali ke manufaktur.
Menurut pengertian Supply chain dapat didefinisikan sebagai sekumpulan aktifitas (dalam bentuk entitas/fasilitas) yang terlibat dalam proses transformasi dan distribusi barang mulai dari bahan baku paling awal dari alam sampai produk jadi pada konsumen akhir. Menyimak dari definisi ini, maka suatu supply chain terdiri dari perusahaan yang mengangkat bahan baku dari bumi/alam, perusahaan yang mentransformasikan bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau komponen, supplier bahan-bahan pendukung produk, perusahaan perakitan, distributor, dan retailer yang menjual barang tersebut ke konsumen akhir

Dalam menerapkan manajemen makro pada supply chain , sekumpulan tolak ukur harus dibangun untuk mengukur efisiensi dari masing-masing operasi didalam supply chain.Sebagai contoh , mitra harus membuat ukuran untuk menunjukan jumlah dan angka dari kedatangan tepat waktu terhadap jadwal kedatangan dari barang dan jasa. Dalam rangka memenuhi stok barang yang tersedia untuk retailer , manufaktur harus menentukan jumlah produk yang diproduksi pada waktu tertentu. Dengan demikian berarti manufaktur harus meramalkan/ membuat perkiraan jumlah penjualan. Dalam hal ini yang terbaik dilakukan adalah bersama-sama dengan retailer menggunakan suatu tolak ukur seperti misalnya CPFR( Collaborative Planning Forecasting and Replenishment ). Ramalan ini digunakan untuk memperkirakan jumlah dan jenis bahan mentah yang harus dibeli, pengapalan dan waktu pengiriman untuk bahan mentah tersebut dan waktu yang dibutuhkan untuk proses di manufaktur. Kemudian barang yang sudah jadi disimpan didalam gudang sampai diorder oleh distributor. (
sumber EAN International, other sources material, data diolah Frans Hero K. Purba).
Dengan SCM yang didesain dengan baik menghasilkan net value positif dengan memberikan keuntungan, mengurang biaya, dan menigkatkan kelangsungan hidup keuangan. Perusahaan dengan supply chain yang diselsaikan dengan baik dapat membagikan keuntungan dengan layak, dengan menghasilkan yang disebut ”win-win relationship. Pada intinya adalah bagaimana saluran distribusi supply chain tersebut dalam suatu perusahaan.

Thursday, November 5, 2009

Etika Bisnis dan Hukum Bisnis Dalam Perkembangan Era Transformasi

Etika Bisnis sangat erat kaitannya dalam Hukum Bisnis untuk melaksanakan kepastian yang tepat dalam suatu organisasi / Badan Usaha. Dalam suatu etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain yaitu pengendalian diri, pengembangan tanggung jawab sosial, mempertahankan jati diri, menciptakan persaingan yang sehat, menerapkan konsep pembangunan tanggung jawab sosial, mempertahankan jati diri, menciptakan persaingan yang sehat, menerapkan konsep pembangunan yang berkelanjutan, menghindari sikap 5K (Kongkalikong, Katabelece, Koneksi, Kolusi, dan Komisi) mampu mengatakan yang benar itu benar, dan adanya penegakan Hukum.
Moral dari seseorang merupakan sesuatu yang mendorong orang untuk melakukan kebaikan etika bertindak sebagai rambu-rambu (sign) / tanda yang merupakan kesepakatan secara rela dari semua anggota suatu kelompok / group/ organisasi. Dunia bisnis yang bermoral akan mampu mengembangkan etika (patokan/rambu-rambu) yang menjamin kegiatan bisnis yang seimbang, selaras, dan serasi. Pelaku bisnis disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya dalam bentuk "uang" dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi. Artinya sebagai contoh kesempatan yang dimiliki oleh pelaku bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess demand harus menjadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. Jadi, dalam keadaan excess demand pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya.

Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain ialah:1. Pengendalian diri pelaku bisnis sendiri tidak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang dan menekan pihak lain dan menggunakan keuntungan dengan jalan main curang dan menakan pihak lain dan menggunakan keuntungan tersebut walaupun keuntungan itu merupakan hak bagi pelaku bisnis, tetapi penggunaannya juga harus memperhatikan kondisi masyarakat sekitarnya. Inilah etika bisnis yang "etis" / Etika”.
2. Pengembangan tanggung jawab sosial (social responsibility)
3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
4. Menciptakan persaingan yang sehat.
Keterkaitan antara hukum bisnis dan etika berbisnis adalah sangat erat hubungannya. Hal terpenting dalam hal ini adalah adanya Wanprestasi atau ingkar janji adalah tidak melaksanakan apa yang dijanjikan (obyek perjanjian) antara kedua belah pihak dapat berupa:Tidak melaksanakan sama sekali apa yang dijanjikan.Melaksanakan sesuatu yang dijanjikan tetapi terlambat.Melakukan apa yang dijanjikan tetapi tidak seperti yang dijanjikan (tidak sempurna).Melakukan sesuatu yang harusnya tidak dilaksanakan.
Kunci kesuksesan dalam sebuah Bangsa mewujudkan : 1. Butuh Pimpinan yg tegas, berani, berkarakter, dan mampu memberikan teladan yg bisa mengubah kultur sebuah bangsa. (Lee Kuan Yew-Singapura; Park Chung-hee-Korea),2. Kultur Bangsa harus dirubah menjadi kultur bekerja keras; kultur disiplin; bersikap hemat; bangga thd dengan yang dihasilkan sendiri; tdk mudah menyerah; mau bekerja sama; mau menghormati orang lain; dan kultur tak mau kalah (Samuel Huntington),3. Kepastian akan Hukum .
Pembahasan mengenai Analisis Ekonomi Atas Hukum dan Etika Binis, terutama implementasinya dalam bidang hukum bisnis di Indonesia, maka di bawah akan dikritisi beberapa permasalahan yang aktual yang dihadapkan dengan prinsip efisiensi ekonomi (economic efficiency). Pemilihan prinsip efisiensi ini berdasarkan pada kemudahannya untuk dipahami, karena tidak memerlukan rumusan-rumusan teknis ilmu ekonomi atau rumus berupa angka-angka. Yang menjadi fokus perhatian adalah berkenaan dengan kemungkinan munculnya ketidakefisienan (inefficiency) dari pembentukan, penerapan maupun enforcement dari peraturan perundang-undangan. (Berbagai sumber study, related material sources, data diolah Frans Hero K. Purba)

Wednesday, November 4, 2009

Manajemen Inovasi dan Kreativitas dalam Strategi Persaingan Pasar

Inti dari keberhasilan bagi seorang wirausaha/ enterpreneur akan tercapai apabila berpikir dan melakukan sesuatu yang baru atau sesuatu yang lama yang dilakukan dengan cara yang baru (thinking and doing new things or old thing in new ways). Proses inovasi adalah mengenai cara perusahaan menghasilkan, melakukan evaluasi, dan mengimplementasikan solusi-solusi kreatif yang akhirnya memudahkan perusahaan mencapai dan memperbarui bisnisnya dalam konteks global. Aspek yang pertama adalah, penciptaan iklim inovasi dalam denyut kehidupan suatu perusahaan. Tentu saja harus segera disebut bahwa penciptaan iklim ini tidak hanya dapat dilakukan melalui aneka slogan atau lips service belaka. Iklim ini hanya bisa mekar melalui sistem pengelolaan manajemen yang demokratis, bergerak cair dalam lintas departemen, dan diusung melalui pola kepemimpinan yang terbuka terhadap beragam ide baru, betapapun radikalnya ide baru itu.

Seperti contoh keberhasilan melakukan inovasi sehingga mampu membangun perusahaan kelas dunia seperti Google atau Amazon tentunya merupakan sebuah impian yang sangat didambakan oleh para enterpreneur ataupun CEO.
Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita lihat terlebih dahulu data statistik dari keberhasilan inovasi berbagai perusahaan berdasarkan pengamatan Clayton Christensen, pakar inovasi ternama dari Harvard Business School.Dalam artikel minggu yang lalu telah dijelaskan bahwa semakin besar guncangan terhadap pasar (market disruption) yang dihasilkan oleh sebuah inovasi, semakin besar nilai (value) dari inovasi tersebut. Google, Amazon dan eBay adalah contoh perusahaan-perusahaan yang dibangun dari inovasi yang mampu menghasilkan guncangan pasar yang sangat besar sehingga mampu menciptakan model bisnis baru. Menurut Clayton ada delapan panduan praktis yang bisa dijadikan acuan untuk menerapkan manajemen inovasi, yaitu (1) melakukan analisa secara mendalam mengenai bisnis dan posisi perusahaan di pasar/industri; (2) melakukan evaluasi kemampuan internal melalui analisismodel bisnis, jasa/produk dan proses bisnis; (3) melakukan asesmen terhadap strategi kompetisi dan kesempatan yang mungkin terjadi dari "guncangan" (disruptive opportunities); (4) mengidentifikasi area-area dari bisnis perusahaan yang bisa terkena dampak dari "guncangan" tersebut di atas; (5) memotivasi tim dan berpikir secara kreatif; (6) mendesain proses untuk menyalurkan ide-ide inovatif; (7)mengetahui kapan sebuah ide bisa ditindaklanjuti menjadi sebuah proyek; dan (8) komitmen untuk menindaklanjuti rencana yang sudah disepakati bersama.
Dalam hal manajemen inovasi dan kreativitas yang menjadi unsur terpenting adalah menentukan sasaran organisasi dengan pendekatan formal dan top-down dalam implementasinya, sekarang berubah menggunakan pendekatan partisipatif, mengikutsertakan anggota-anggota organisasi lainnya dan mengundang inisiatif mereka dalam memformulasikan sasaran dan rencana pencapaiannya. Inovasi dibedakan dengan penemuan atas dasar kebutuhan untuk mencapainya. Untuk memperoleh penemuan dibutuhkan kreativitas sedangkan inovasi diperoleh melalui perencanaan yang didorong oleh pergeseran pasar berupa penyempurnaan produk, produksi dan distribusi. Untuk menghadapi Era Globalisasi ini diperlukan suatu kreativitas dan inovasi yang baru untuk mengembangkan suatu ide-ide yang cemerlang bagi kemajuan suatu perusahaan disuatu Negara, tentunya peningkatan SDM dan Growth Creativity Inovation melalui uiji coba dan Research Development. (Berbagai sumber terkait, data diolah oleh Frans Hero K. Purba)

Tuesday, November 3, 2009

Pencapaian Strategi Negosiasi dalam Perusahaan untuk Win Solution

Tentunya dalam bernegosasi merupakan hal yang terpenting dalam memecahkan suatu masalah dimeja perundingan, baik itu dalam organisasi maupun Badan Usaha. Bahkan harus bertemu dengan banyak karakter: mulai dari yang keras kepala sampai yang banyak bicara. Meminjam istilah seorang pakar negosiasi, seperti menggembala kucing (herding the cats). Jika demikian, kita seolah masuk rimba raya yang tak jelas mana utara-selatannya. Begitulah realitas negosiasi. Selalu kompleks. Namun, bila dicermati lebih hati-hati, semua kompleksitas tersebut sebenarnya memiliki struktur. Mempunya pola yang gampang dikenali. Pihak-pihak yang bernegosiasi (meskipun jumlahnya banyak) bisa dikategorikan ke dalam sejumlah kecil kecil kelompok, atau koalisi.Proses negosiasi adalah salah satu mekanisme yang sangat penting bagi setiap perusahaan. Terutama dalam upaya mencapai hasil secara optimal dari suatu bentuk kerjasama bisnis yang saling menguntungkan baik dari aspek finansial, waktu, higgga kualitas. Adapun upaya negosiasi tidak diperlukan manakala : 1. persetujuan atau kesepakatan bukanlah tujuan yang ingin dicapai oleh para pihak, contoh : seorang karyawan yang tertangkap tangan melakukan pencurian, dan akan mengalami pemutusan hubungan kerja. 2 .salah satu atau kedua belah pihak berniat untuk merugikan atau menghancurkan pihak lain, contoh : pemogokan yang dibarengi dengan upaya sabotase. 3. negosiator dari salah satu pihak mempunyai kekuasaan yang terbatas atau tidak mempunyai kekuasaan sama sekali untuk mewakili kelompoknya dalam negosiasi, contoh : perwakilan pihak pekerja atau pengusaha dalam negosiasi KKB tidak diberikan wewenang untuk mengambil keputusan apapun selama negosiasi berlangsung. Dalam melakukan negosiasi, kita perlu memilih strategi yang tepat, sehingga mendapatkan hasil yang kita inginkan. Strategi negosiasi ini harus ditentukan sebelum proses negosiasi dilakukan. Ada beberapa macam strategi negosiasi yang dapat kita Pilih, sebagai berkut : 1. Win-win . Strategi ini dipilih bila pihak-pihak yang berselisih menginginkan penyelesaian masalah yang diambil pada akhirnya menguntungkan kedua belah pihak. Strategi ini juga dikenal sebagai Integrative negotiation. Contoh : Pihak manajemen sepakat untuk memberikan paket PHK di atas ketentuan pemerintah, dan pihak pekerja sepakat untuk dapat segera mengakhiri hubungan kerja dengan damai. 2. Win-lose. Strategi ini dipilih karena pihak-pihak yang berselisih ingin mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya dari penyelesaian masalah yang diambil. Dengan strategi ini pihak-pihak yang berselisih saling berkompetisi untuk mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Contoh : Pihak pekerja terpaksa menyepakati kenaikan gaji di bawah target yang telah mereka usulkan sebelumnya kepada pihak perusahaan. 3. Lose-lose .Strategi ini dipilih biasanya sebagai dampak kegagalan dari pemilihan strategi yang tepat dalam bernegosiasi. Akibatnya pihak-pihak yang berselisih, pada akhirnya tidak mendapatkan sama sekali hasil yang diharapkan. Contoh : Pihak pengusaha akhirnya melakukan upaya "Lock out", karena pihak pekerja tidak bersedia untuk menghentikan pemogokan. 4. Lose-win .Strategi ini dipilih bila salah satu pihak sengaja mengalah untuk mendapatkan manfaat dengan kekalahan mereka. Contoh : Pihak pengusaha sengaja memberikan beberapa konsesi yang tidak terlalu signifikan kepada pihak pekerja, dengan harapan dapat membangun kepercayaan dengan pihak pekerja di masa yang akan datang.

Dalam setiap proses negosiasi , setiap pihak yang berkepentingan berupaya mempertukarkan sesuatu yang dimilikinya dan mendapatkan timbal balik yang sepadan dari mitra negosiasinya. Untuk suatu perundingan dalam negoasia sebenarnya bukanlah sesuatu hal yang perlu dikhawatirkan oleh para professional atau manajer / pemimpin selama mereka memahami konsep-konsep penting yang berkaitan dengan proses perundingan, seperti BATNA (Best Alternatives of The Negotiated Agreement) , Reservation Price, ZOPA (Zone of Possible Agreement), Strategi Negosiasi, taktik yang digunakan dalam perundingan, dan perangkap yang ada dalam proses negosiasi. Disamping itu, para professional atau manajer perlu terus berupaya untuk meningkatkan kemampuannya, dan menimimalkan munculnya bias yang dapat menghambat proses perundingan yang terjadi dengan mencapai suatu win win solution. (sources data Arbono Lasmahadi, others related materials, data diolah oleh Frans Hero K. Purba)

Monday, November 2, 2009

Manajemen Perubahan Sebagai Strategi Tatakelola Kemajuan Perusahaan

Perusahaan ataupun organisasi mana yang tak ingin untuk perubahan yang lebih baik. Tentunya perbaikan baik tingkat perusahaan ataupun birokrasi mempunyai tipe tertentu untuk perubahan tersebut. Perubahan mempunyai manfaat bagi kelangsungan hidup suatu organisasi, tanpa adanya perubahan maka dapat dipastikan bahwa usia organisasi tidak akan bertahan lama. Perubahan bertujuan agar organisasi tidak menjadi statis melainkan tetap dinamis dalam menghadapi perkembangan jaman, kemajuan teknologi dan dibidang pelayanan kesehatan adalah peningkatan kesadaran pasen akan pelayanan yang berkualitas. Perubahan terdiri dari 3 tipe yang berbeda, dimana setiap tipe memerlukan strategi manajemen perubahan yang berbeda pula. Tiga macam perubahan tersebut adalah: 1. Perubahan Rutin, dimana telah direncanakan dan dibangun melalui proses organisasi; 2. Perubahan Peningkatan, yang mencakup keuntungan atau nilai yang telah dicapai organisasi; 3. Perubahan Inovatif, yang mencakup cara bagaimana organisasi memberikan pelayanannya. Manajemen yang berani melakukan manajemen perubahan yang terukur dan terarah akan mendapatkan hasil yang sangat positif. Strategi ini akan membawa perusahaan anda keluar dari krisis sebagai pemenang

Dalam suatu manajemen seorang pemimpin perlu memahami mengapa organisasi harus siap terhadap perubahan: apakah yang bersifat inovatif maupun strategis. Perubahan inovatif adalah perbaikan secara kontinyu di dalam kerangka sumberdaya yang ada. Sementara perubahan strategis adalah perubahan melakukan sesuatu yang baru. Tiap perubahan tersebut tentunya akan menggunakan pendekatan berbeda. Bisa berbentuk perubahan rutin, perubahan darurat, perubahan dalam hal mutu produk dan pelayanan, dan perubahan radikal. Dalam hal ini manajer selayaknya proaktif menjelaskan kepada karyawan tentang strategi perubahan yang akan dijalankan organisasi. Maksudnya antara lain memperkecil kemungkinan terjadinya resistensi para karyawan.

Menurut kajian beberapa ahli bahwa Tiga definisi dasar mengenai manajemen perubahan:1.The task of managing change (tugas mengelola perubahan),- berhubungan dengan pembuatan perubahan yang terencana dan dengan gaya atau pengelolaan yang sistematik. Tujuannya adalah untuk mengimplementasi metode dan sistem baru pada organisasi secara lebih efektif. - perubahan yang akan dikelola berada dan dikendalikan oleh organisasi. 2An area of Professional Practice (wilayah praktek profesional), -Terdapat banyak konsultan independen yang bangga menyatakan bahwa mereka terlibat dalam perubahan yang terencana, bahwa mereka adalah agen perubahan, bahwa mereka mengelola perubahan untuk clientnya, serta berpengalaman dalam manajemen perubahan. 3.A body of knowledge (bidang ilmu/kumpulan pengetahuan): - isi atau bahan subjek dari pengelolaan perubahan, -terdiri dari: model, metode, teknik, tools, skills, dan pengetahuan lain. -Bersumber dari: psikologi, sosiologi, administrasi bsinis, ekonomi, teknik industri, system engineering, dan ilmu human & organizational behaviour

Dalam hal ini juga yang terpenting dimana langkah-Langkah Perubahan Salah satu pola teladan ini terdiri dari tiga langkah-langkah yangberbeda yaitu: persiapan, penerimaan, dan komitmen.Dalam tahap persiapan, mereka yang akan dilibatkan di dalam usahaperubahan menjadi sadar akan kebutuhan untuk berubah dan memahamibahwa perubahan yang diusulkan akan mempengaruhi tanggung-jawab danperan pribadi mereka. Berupaya antara Individual, Group, Organisasi didalam membangun makna serta implementasi yang lebih baik dimasa yang akan datang dengan konsep dan strategi berbagai cara yang dilakukan serta komitment. (Berbagai sumber terkait, data diolah oleh Frans Hero K. Purba)

Sunday, November 1, 2009

Pembelajaran dari Beberapa Negara Sebagai Bottleneck Strategi Pembangunan Pertanian Agribisnis Indonesia

Tentunya suatu keinginan yang kuat bagi Indonesia untuk berdaya saing dalam peningkatan agribisnis / pertanian untuk lebih baik lagi. Indonesia yang kaya akan hasil pertanian yang telah dikenal pada zaman dahulu sampai sekarang gemah ripah loh jenawi, kaya akan hasil pertanian. Suatu kebangkitan inilah yang perlu diperhatikan dan kesinergian antara para petani, pelaku usaha dan pemerintah dalam mengembangan usaha dibidang agribisnis. Apabila kita mengacu pada suatu teori agribisnis dari David Downey dan Steven P. Erickson, petani belum mampu berkiprah di sektor sekunder dan tersier. Dengan kata lain proses agribisnis yang dijalankan terbatas untuk sektor input dan primer, baru sebatas mengelola sarana produksi dan produksi, sedangkan untuk agroindustri dan pemasaran, justru dikuasai pihak lain.
Sebagai beberapa contoh perbaningan dengan negara-negara lain menurut Prowse dan Chimhowu (2007) dalam studinya yang bertajuk “Making Agriculture Work for The Poor” yaitu : Pertama pentingnya pembangunan infrastruktur yang mendukung perekonomian masyarakat. Infrastruktur merupakan faktor kunci dalam mendukung program pengentasan kemiskinan yang dalam hal ini petani di pedesaan. Di Vietnam, pesatnya penurunan angka kemiskinan tak lepas dari tingginya investasi untuk pembangunan irigasi dan jalan yang mencapai 60 persen dari total anggaran sektor pertanian mereka pada akhir dekade 1990-an. Hal yang sama juga dilakukan di India yang membangun infrastruktur pedesaan. Bahkan di Ethiopia yang pernah mengalami krisis pangan dan kelaparan pada pertengahan dekade 1980-an, perbaikan jalan di pedesaan dan peningkatan akses pasar bagi para petaninya mampu mengangkat tingkat kesejahteraan para petaniannya.
Kedua, perluasan akses pendidikan: Pendidikan merupakan dan memainkan peranan yang penting dalam mengentaskan kemiskinan di pedesaan melalui tiga saluran yakni dimana tingkat pendidikan berkaitan erat dengan peningkatan produktivitas di sektor pertanian itu sendiri. Kemudian, pendidikan juga berhubungan dengan semakin luasnya pilihan bagi petani untuk bisa bergerak di bidang usaha di samping sektor pertanian itu sendiri yang pada gilirannya juga akan dapat meningkatkan investasi di sektor pertanian. Terakhir, pendidikan juga berkontribusi terhadap migrasi pedesaan – perkotaan. Namun demikian di India, Uganda, dan Ethiopia migrasi terjadi antar desa. Buruh tani yang berpendidikan di Bolivia dan Uganda lebih memiliki posisi tawar yang tinggi dalam hal upah yang lebih baik (Mosley, 2004).
Ketiga, penyediaan informasi baik melalui kearifan lokal setempat maupun fasilitasi dari pemerintah. (Umumnya petani miskin memiliki kualitas modal sosial yang rendah yang berakibat terhadap minimnya akses terhadap informasi seperti informasi kesempatan kerja, informasi pasar mengenai input dan output pertanian, dan informasi mengenai teknik – teknik pertanian terbaru. Kurangnya informasi ini merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan mengapa petani kita tetap miskin). Untuk membangun keunggulan bersaing Indonesia pada kelima kluster agroindustri tersebut, kita memerlukan suatu road map pengembangan agroindustri. Road map yang dimaksud yakni bergerak dari agroindustri yang dihela oleh pemanfaatan sumberdaya alam dan sumber daya manusia (SDM) yang belum terampil ( natural resources and unskill labor based ) atau factor driven, lalu bergerak kepada agroindustri yang dihela oleh pemanfaatan modal dan SDM lebih terampil ( capital and semi-skill labor based ) atau capital-driven, dan kemudian melangkah maju kepada agroindustri yang dihela pemanfaatan ilmu pengetahuan-teknologi dan SDM terampil ( knowledge and skilled labor based ) atau innovation-driven.. Jika produk agribisnis Indonesia masih lemah untuk berdaya saing dan berhadapan dengan membanjirnya produk-produk dari negara lain sebagai konsekuensi globalisasi dan perdagangan bebas. Dimana produk agribisnis Indonesia haruslah memiliki keunggulan kompetitif disamping keunggulan komparatif agar mampu bersaing di pasar global dengan berbagai strategi khusus untuk lebih mempertahankannya. (Sources: Berbagai sumber terkait, data diolah oleh Frans Hero K. Purba)